Nyombong Tapi Nyampah: Fenomena “Status Ga Penting” di Ruang Publik

Di laman Facebook, saya bisa menulis “Yes, my monthly report akhirnya disetujui!”, atau yang lebih kinclongWow, Kementerian X setuju dengan skenario konsultasi yang saya ajukan”. Kalau mau lebih sok dan memuakkan lagi “Hadeh, disuruh dateng buat training ke HQ di Eropa, tapi malas banget….”Tapi semua itu untuk apa? Apa artinya? Bagaimanakah status-status seperti tersebut di atas akan memberi manfaat kepada sahabat di medsos? Tidak ada, kecuali semua itu hanya sampah dunia maya dan keputus-asaan penulisnya! Kenapa demikian? Untuk itu, saya akan menceritakan sekelumit pengalaman lucu, yang relevan untuk menjelaskan fenomena yang saya sebut “nyombong-tapi-nyampah“.

Bersambung….

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ketika Pendeta Y Berkhutbah Berbaju Minang

Kalaulah Penulis tidak salah ingat, polemik, debat (kusir) atau apapun namanya mengenai adanya penyebar agama bukan Islam keturunan Minangkabau (yang asal-usulnya adalah dari salah satu kaum terbesar di Ranah Minang, yaitu Koto) kembali marak akhir-akhir ini. Namanya Y. Meski disini Penulis tidak menuliskan nama suku yang bersangkutan (untuk menghormati keputusan Adat yang telah diambil Kaum Koto), tapi sesungguhnya Orang Minang yang lama hidup di Sumatera Barat sungguh bisa merasakan betapa Minang-nya nama ini, meski tanpa embel-embel suku di belakang nama tadi. Serius! Jika kawan-kawan yang bukan Urang Awak atau yang tidak banyak berinteraksi dengan kelompok budaya yang satu ini kemudian membaca nama-nama seperti nama si Y, Basrizal, Busrizal, Marlizon, Afrijon, Efrizal, Syafrizon, Indrajaya, Iryulmis, Yenfaldi, Yusminar, Misyuner, dan lain sebagainya, hampir pasti mereka itu berdarah Minang atau dititipkan nama oleh orang Minang! (Mohon maaf apabila diantara kesamaan/kemiripan dengan nama Pembaca atau nama saudaranya).

Cerita ini sebenarnya bukan barang baru di Ranah Minang sendiri. Penulis masih ingat, waktu jaman kuliah, hal ini sudah dibahas dan diributkan. Tentu saja terutama pada suatu masa, dimana “aksi bagi-bagi indomie dan sembako” marak terjadi di beberapa pelosok di Minang Kabau. Y, yang keturunan Koto ini, sempat diduga kuat sebagai salah satu otak dibelakang “lancarnya” distribusi indomie dan sembako di Ranah Minang. Kali ini, berita ini kembali marak melalui media jejaring sosial. Cerita lama dikemas ulang melalui media baru sehingga sebaran dan jangkauan dampak polemik yang ditimbulkannya menjadi lebih dasyat. Yang paling hot adalah mengenai adanya penkhutbah non-Islam yang didugan adik kandung Buya HAMKA, seorang tokoh Minang yang sangat berpengaruh tidak hanyak di kampungnya, tapi juga di Sumatera Barat, Indonesia bahkan juga dunia.

Hampir seluruh Urang Awak termasuk yang dirantau tak bisa menerima kenyataan, apabila ada dunsanaknya atau kaumnya atau Orang Minang lainnya yang keluar dari Islam. Tentu saja ini terkait dengan falsafah Urang Awak; Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Orang Minang percaya bahwa kebudayaan dan cara hidup Minang itu adalah manifestasi Islam itu sendiri. Oleh karena itu, kisah orang Minang yang pindah agama dan kemudian menjadi penyebar agama lain ini menjadi aib tingkat dewa, yaitu sebuah borok super busuk yang aromanya saja dipercaya dapat memicu reaksi pembusukan pondasi kayu Rumah Gadang, sehingga niscaya rubuhlah rumah kebanggaan Urang Awak itu. Borok ini juga dianggap sangat menular (highly-contagious)  sehingga apabila si penderita tidak disembuhkan, maka dia akan diusir dari kampung.

Diantara Urang Awak, yang paling keras bersuara tentu saja dari masyarakat yang satu suku dengan si Y tadi, suku Koto. Dikampungnya, si Bapak Y ini sudah diusir dari kampungnya dan tidak diakui lagi sebagai bagian dari kaumnya. Pada media sosial mereka berkonsolidasi dan menjadikan ini sebagai salah satu isu penting untuk dibicarakan dan ditindaklanjuti. Kemarahan kaum ini dan Orang Minang dan suku Koto makin memuncak lagi ketika Y masih mengklaim dirinya sebagai seorang Koto dan lalu (konon) menyampaikan kabar dengan memakai pakaian adat Minangkabau.

Substansi dari masalah ini sebenarnya penting, sebagaimana salah satu topik utama yang diperdebatkan, termasuk oleh Y sendiri; apakah Orang Minang ketika berpindah agama menjadi selain Islam atau bahkan menjadi tidak beragama dianggap bukan lagi Orang Minang? Masih bolehkan Y menggunakan kata-kata “Koto” pada namanya?  Bolehkah pakaian dan simbol-simbol adat Minang digunakan dalam ritual agama selain Islam? Inilah yang akan Penulis coba elaborasi, (mencoba) dari perspektif lain. Mudah-mudahan bisa berkontribusi mengurai benang kusut, dan tidak semakin memperkusut. Bismillah….

Bisakah Y dikatakan Urang Awak?

Bernama Y dan tidak bisa dipungkiri bahwa Ibunya (darimana suku diwariskan secara matrilinial) adalah Urang Koto. Ini kiranya adalah fakta yang juga tidak bisa dibantah oleh Suku Koto. Y berdarah Minang, ibu, mamak dan saudara-saudara kandungnya seibu juga berdarah Minang dan bersuku Koto. Y dahulu bergama Islam lalu berpindah agama menjadi non-muslim. Ini juga fakta. Lalu, dengan kondisi sekarang, apakah Y Urang Awak?

Disini, kita perlu menyepakati apa arti dan makna dari Orang Minang atau Urang Awak. Apakah Urang Awak merujuk kepada HANYA orang berdarah Minang, terutama dari jalur ibu kandung atau individu yang diterima dan diakui sebagai bagian dari suatu kaum. Karena, dengan adanya konsep “masuak bainduak” (sebagai bagian dari konsep tabang mancangkam, hinggok manumpu) seseorang yang sama sekali tidak berdarah Minang bisa diterima dan menjadi bagian yang sah dari suatu kaum, apakah itu Koto, Caniago, Sikumbang dll. Untuk itu, kaum dan suku perlu juga dipahami bukan sebagai kelompok yang bertalian darah saja. Melainkan sebuah kelompok yang memiliki aturan-aturan dan ikatan-ikatan yang kuat, yang mengacu pada sejumlah konvensi, norma dan aturan (rules)–ketiga ini merupakan institusi–yang jelas meski tak selalu tertulis. Ketika diterima dan diakui sebagai bagian dari kaum, seseorang kemudian terikat oleh konvensi, norma dan aturan tadi. Ketaatan terhadap ketiga hal tadilah yang menjami seseorang masih memiliki legitimasi sebagai bagian dari suatu kaum. Sebagaimana seseorang yang tidak berdarah Minang dapat diterima sebagai bagian dari kaum, demikian juga dengan seseorang yang berdarah Minang dapat dikeluarkan dari kaum. Dengan demikian, maka Y bukanlah bagian dari kaumnya lagi, alias sudah dianggap sebagai orang luar yang juga telah terusir. Ini dalam konteks kaum. Bagaimana dengan konteks sebagai bagian dari Urang Awak?

Konsep Urang Awak tidak cukup dipahami secara dangkal sebagai orang yang berdaran Minang. Urang Awak adalah konsep yang mengacu kepada kelompok budaya yang terikat kepada konteks geografi, sejarah, nasab dan yang terpenting adalah nilai-nilai yang menjadi sumber institusi kelompok budaya tersebut. Nilai yang menjadi sumber dan dasar institusi kelompok Urang Awak adalah Adaik Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah atau adat bersumber/bersandar kepada syara’ yang bisa dimakani sebagai nilai-nilai yang mengajarkan dan memandu kehidupan manusian, dan syara’ tersebut menganut nilai dan prinsip dasar dalam Kitab Allah, yaitu Al-Quran. Salah satu prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar dalam Islam dan kemudian diadopsi oleh Adat adalah bahwa sembahan (ilah) adalah Allah, yang tidak beranak dan tidak berinduk kepada yang lain. Allah itu satu, tidak tujuh, tidak delapan. Bahwa satu adalah satu, bukan gabungan dari delapan atau tujuh.

Oleh karena itu, orang yang tidak berdarah Minang, orang yang tidak berada di Sumatera Barat, bahkan orang yang tidak berada di Indonesia, apabila dia mau menerima dan tetap menganut falsafah Adaik Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah lalu diterima atau diterima oleh sebuah kaum (melalui proses masuak bainduak), maka dia adalah Urang Awak dan anak-anaknya pun akan diterima sebagai bagian dari suatu kaum tersebut. Melekat kepadanya kewajiban kepada kaum, dan jatuh juga kepadanya hak, misalnya hak untuk memanfaatkan sumber daya alam (misalnya lahan) yang menjadi ulayat nagari atau bahkan kaum. Y sudah diusir karena sudah mengakui ilah yang lain. Adalah hak dan kewenangn Y sepenuhnya untuk ber-ilah kepada sembahan yang diyakininya. Adalah hak dan kewenangan kaumnya juga untuk kemudian mengusir dan mengeluarkan Y dari kaum Urang Koto, karena dia tidak mengakui falsafah Urang Koto dan Urang Awak pada umumnya. Dengan demikian, Y bukanlah lagi bagain dari kelompok budaya yang lazim dikenal sebagai Urang Awak. Singkatnya, Y bukan Urang Awak! Makanya jangan heran jika orang yang tidak bergama Islam, meski berdarah Minang, tapi memang tidak bisa dianggap bagian dari kaum kerabatnya yang masih beragama Islam dan mengamalkan budaya Minang.

Jadi, kepada kawan-kawan yang tidak beragama Islam dan apalagi tidak memahami konsep yang paling mendasar dari kelompok budaya ini, lalukanlah pembelaan seperlunya: bahwa adalah hak Y untuk memilih agamanya. Kalau kawan-kawan ngotot ingin membela hak Y sebagai bagian dari kelompok budaya Minang, ini jelas keliru besar. Karena adalah pilihan Y juga untuk tidak lagi berpedoman kepada nilai yang menjadi dasar institusi budaya Urang Awak. Kalau Y ngotot, sangat mungkin karena ada sesuatu yang dia ingin kemas dalam misi penggembalaanya. Bisa pula karena sesungguhnya manusia butuh untuk berbudaya, dan dalam hal ini Y hanya butuh pengakuan eksistensi bahwa dia individu yang berasal dari kelompok Urang Awak. Nah, kalau kawan-kawan motivasinya apa? Pahami dan hargailah falsafah yang dipilih Urang Awak sebagaimana Anda membela Y karena pilihannya.

Bagi kawan-kawan Urang Awak, juga jangan  lebay mencaci-maki Y seolah-olah Anda lebih disayang oleh Allah, ilah dari agama yang nilai-nilainya diadopsi oleh budaya Minang. Jika Anda berargumen bahwa Anda lebih baik karena pasti masuk sorga sedangkan Y yang diklaim murtad pasti masuk neraka, percayalah, Anda tak kalah ngawurEmangnya enak dan tahan lama-lama di neraka dan emang yakin gak akan tergoda ninggalin Islam? Jangan sombong dan takabur! Sikapilah dengan sepantasnya, seperlunya dan sebaiknya.

Bolehkah Y menggunakan kata Koto dibelakang namanya?

Sederhana saja. Jika “Koto” tersebut adalah nama yang tertulis pada akta kelahiran, kartu tanda pengenal, passport, dan ijasah-ijasahnya. Maka tentu saja mau tidak mau Y akan tetap menggunakannya. Secara hukum ini sah dan adalah haknya. Namun jika tidak, sebaiknya yang bersangkutan mahfum dan bijak, bahwa dia telah dikeluarkan dari kaum. Jadi, sebaiknya tanggalkan saja.

Bolehkah pakaian dan simbol-simbol adat Minang digunakan dalam ritual agama selain Islam?

Nah, bagian ini lebih seru. Agak mirip-mirip dengan perdebatan; bolehkan orang Malaysia menari piring atau menjual rendang atau berpencak silat, termasuk juga menari barongan? Supaya tidak melebar, kita fokus saja pada pakaian adat Minangkabau.

Apapun suku dan bangsanya, ras dan keturunannya, termasuk agamanya, seseorang boleh dan bebas mengenakan pakaian adat Minang! Produk dan simbol budaya Minang adalah bagian dari kebudayaan nasional dan bagian dari peradaban manusia. Kalau masih manusia, Anda boleh memakainya. Patung dan manekin aja boleh, masa manusia engga? Tapi kalau binatang Anda beri pakaian adat, lalu Anda unggah ke internet, itu lain ceritanya. Apalagi kalau dikenakan pada hewan-hewan yang disepakati bermakna negatif jika diasosiakan kepada sifat manusia, seperti monyet dan anjing.

Kembali kepada Y, menurut keyakinan saya, 100% dia boleh mengenakan pakaian adat Minang. Misalnya, dia berfoto keluarga dan menyimpannya sebagai koleksi pribadi. Namun, apabila foto tersebut kemudian diungunggahnya ke internet, tentu ini lain ceritanya. Foto tersebut akan dimaknai sebagai provokasi bagi hampir seluruh orang Minang, terutama dari kaum Koto. Penulis memilih kata “dimaknai” karena meskipun bisa jadi Y hanya rindu kepada budaya yang telah ditinggalkannya, tapi sosoknya sudah sedemikian terasosiasi erat dengan imej sebagai penyebar agama lain dari ranah Minang. Tentu saja, polemik yang dipicu oleh orang Minang sendiri yang turut memperkuat imej tersebut. Disini diperlukan kearifan kedua belah pihak, Y dan Urang Awak. Kepada Y sebaiknya tidak perlu mengunggahnya karena masih banyak Urang Awak yang kurang bijak sehingga hal itu nantinya tidak dianggap sebagai peristiwa budaya biasa, melainkan provokasi atau hinaan. Namun, jika Barack Obama yang berfoto dengan pakaian adat Minang, atau Kristen Stewart yang memakai pakaian anak daro, Urang Awak kebanyakan tidak akan menganggapnya sebagai masalah. Mungkin malah bangga. Tapi, jika benar Y memakai pakaian adat Minang untuk berkhutbah di tempat ibadah agama lain, ini jelas kelewatan!

Tidak bisa lagi dikatakan persistiwa budaya biasa. Ini jelas kelebayan yang mutlak. Y pasti secara sadar dan jelas memiliki maksud dengan menggunakan simbol-simbol budaya Minang ketika berkhutbah. Sadar atau tidak, hal tersebut bermakna; “lihat, Saya orang Minang dan saya juga adalah penyebar agama lain”. Orang Minang sudah jelas dan tegas mengadopsi Islam kedalam nilai-nilai budaya sehingga cara hidup Urang Awak sudah menjadi berbeda dengan periode sebelum Islam masuk ke Ranah Minang. Mereka bangga dengan itu dan menjaganya. Menggunakan pakaian adat Minang dan simbol-simbol Minang dalam ritual agama selain Islam? Itu sudah keterlaluan! Standar gandalah yang dipertontonkan oleh Pak Y (tentu jika benar beliau telah berkhutbah di tempat ibadah agama lain dengan pakaian adat) dan pendukungnya. Jika Anda merasa nilai yang dianut adalah privasi dan tak ingin diganggu gugat, jangan ganggu nilai dan keyakinan orang, apalagi nilai dan keyakinan satu kelompok budaya.

Apapun agama yang Anda pilih dan jika Anda merasa perlu menyebarkannya atau sekadar memperkuat keyakinan pada kelompok Anda, gunakanlah cara-cara yang biasa dan tidak melanggar privasi kelompok lain. Apakah tidak kemudian menjadi provokasi apabila simbol-simbol yang terkait dengan suatu keyakinan/agama digunakan sebagai alat peraga atau sekedar penguat suasana khutbah agama lain?

Beriman memiliki konsekuensi. Adalah sudah kewajiban bagi tiap-tiap penganut untuk percaya dan yakin seyakin-yakinnya pada agama yang telah dipilihnya. Dengan demikian, untuk tidak percaya sama sekali dan sepenuhnya kepada ajaran Agama lain. Namun kemampuan mengelola “sikap untuk sepakat untuk tidak saling mempercayai agama orang lain” inilah yang mencerminkan kedewasaan individu sebagai makhluk beragama dan sebagai bagian dari kelompok masyarakat majemuk.

Tidak pantas dan tidak pas jika pakaian dan simbol-simbol budaya Minang diasosiakan dengan agama lain. Pemilik sah budaya tersebut sudah jelas berkata, “kami orang Minang, hidup kami bersandar pada adat yang bersumber kepada ajaran Islam”. Perbuatan berkhutbah di tempat ibadah agama lain dengan pakaian adat Minang jelas bukan perbuatan yang bebas nilai. Setiap manusia mencerminkan nilai yang dianutnya, apalagi jika kemudian manusia tersebut mendeklarasikan nilai tersebut dan menjadi pemimpin kelompok tertentu. Dengan demikian, menggunakan simbol budaya Minang pada ritual agama selain Islam adalah tidak patut. Jika dilakukan secara sadar, tentu ini berupa sebuath pelanggaran adat. Apabila dilakukan untuk mengasosiasikan Minang dengan kepercayaan lain yang ditolak budaya Minang, tentu ini merupakan penghinaan dan provokasi. Namun, jika ini dilakukan karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran maka ini tentu merupakan kekhilafan, dan dengan demikian patut dimaafkan.

Tulisan ini sedemikian rupa terasa subjektif. Memang demikian adanya. Tak mungkin seorang penulis tak punya nilai. Semua susunan logika, pilihan metoda dan analisa memiliki nilai (value-laden). Sebaik-baiknya tulisan subjektif adalah tulisan yang masih membuka ruang untuk dipertanyakan, dikoreksi dan diperbaiki. Semoga tulisan ini berkontribusi pada epistemologi dalam memahami Urang Awak sebagai sebuah kelompok budaya, dan orang Minang sebagai individu yang berdarah Minang, sekaligus untuk memperkaya pandangan seputar kelayakan budaya Minang dan simbol-simbolnya ketika diasosiakan dengan agama selain Islam.

Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pemaparan pendapat. Tidak ada maksud untuk memprovokasi atau menyebar permusuhan. Saya hanya seorang Urang Awak yang ingin memandang isu ini dari perspektif yang berbeda, yang memang belum banyak bahkan belum pernah muncul sampai saat ini. Oleh karena itu, seperti yang dahulu diamalkan oleh pemikir-pemikir Islam di surau-surau ditepian sawah dan kaki bukit; perkayalah tesis ini dengan anti-tesis Anda.

Salam.

Jakarta, 16 November 2013

Posted in Sosial Budaya | 3 Comments

Makan Itu Belajar

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari satu tulisan utuh mengenai slow food….

Aktivitas makan di rumah kita semakin lama semakin kering makna….

Motivasi untuk makan telah dicemari oleh mimpi tentang gaya hidup baru dan peningkatan status sosial. Padahal, makan sesungguhnya memiliki nilai-nilai yang mengakar pada sistem budaya, dan sistem ekologi; sebagai hasil proses interaksi yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Bagi sebagian besar Anda, mungkin masih lekat dalam pikiran bagaimana dahulu orang tua kita bersikap nyinyir terhadap komposisi makanan yang kita santap.

”Ambil sayuran hijau yang banyak supaya tidak pakai kacamata, jangan hanya daging dan nasi saja yang banyak!” Atau, ”Jangan takut makan cabe supaya cepat besar, juga tomat dan sayuran merah, supaya bisa tambah darah!”. Dalam kenyinyiran tersebut sesungguhnya termuat nilai-nilai yang mungkin mereka pun tak sadar, karena sudah sedemikian lekat dan mengendapnya nilai-nilai tersebut pada sistem pengetahuan mereka karena selalu diulang-ulang sejak generasi sebelumnya. Supaya mata sehat, kita disuruh makan yang hijau-hijau, bahkan tak jarang disuruh melalap sayuran mentah. Kalau pusing-pusing karena kurang darah, kita disuruh makan tomat atau bayam yang berwarna merah. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan terakhir ini menurut ilmu gizi moderen, tapi di dalam pesan-pesan mereka terkandung pengetahuan tentang pentingnya keanekaragaman dalam menu makanan yang sehat, lokal, murah, dan mudah didapatkan. Yang paling penting, kita memakan apa yang kita ketahui asal-usulnya.Bagian sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam, ide ini sangatlah penting untuk menjaga kehalalan makanan yang mereka santap.

Makan menjadi sebuah proses belajar yang penting melalui pengamatan terhadap orang lain dan lingkunganya (social learning), dengan orang dewasa (atau orang tua) sebagai figur sentral. Pesan-pesan mengenai manfaat sayuran hijau dan merah tersebut secara tidak sadar meningkatkan “keintiman” dan “rasa ingin tahu” kita terhadap apa yang terhidang dan kita makan, yaitu sesuatu yang memberi manfaat penting yang berbeda-beda bagi tubuh kita. Rasa yang membuat kita kemudian ingin tahu lebih banyak tentang apa yang kita makan. Seperti apa sayur bayam, cabe, dan tomat ketika masih di kebun? Bagaimana cara menanam dan memanennya? Bagaimana dengan ikan, darimana pula datangnya? Saya masih ingat dengan jelas ketika pertama kali bertanya tentang ikan-ikan kecil yang digoreng dalam bola-bola yang terhidang di meja makan kami di suatu siang, lalu Ibu Saya menjelaskan tentang rinuak, ikan endemik di Danau Maninjau, dan bagaimana bisa sampai ke Pasaraya. Pada kali berikutnya, ketika rinuak mati itu belum dimasak dan Ibu saya lengah, mereka saya tebar ke dalam bak mandi demi berusaha untuk membayangkan seperti apa mereka ketika masih hidup. Saat itu sebenarnya Saya belajar eksperimen dan pengamatan.  Mungkin tak perlu kasus yang sama, tapi Saya yakin “ritual belajar” di meja makan ini dulu kerap terjadi di rumah-rumah kita. Maka ketika kita menyantap hidangan, kita mengetahui dengan jelas bagaimana prosesnya dari ketika bibit disemai, tumbuh dengan memanfaatkan unsur hara di dalam tanah, dipanen, dan seterusnya hingga terhidang di meja makan kita. Pengetahuan-pengetahuan ini kemudian tersusun dengan baik sehingga menimbulkan penghargaan terhadap apa yang kita makan, proses-proses yang menyertainya, serta petani yang membuat semuanya menjadi mungkin terhidang untuk kita. Pengetahuan yang kemudian mempengaruhi sikap dan cara pandang kita terhadap alam dan makluk hidup di dalamnya. Tidakkah ini indah, jika pada hari yang berbeda anak-anak Anda tak sabar belajar hal baru dari apa yang terhidang di meja makan di rumah kita?

Konsep Keharmonisan Alam di Meja Makan Kita

Lebih jauh lagi, keberagaman menu dalam pola makan “tradisional” kita yang dipasok oleh produk-produk lokal memungkinkan petani tetap mempertahankan keanekaragaman hayati (biodiversitas) lokal, melalui cara bercocok-tanam berdasarkan kearifan dan pengetahuan yang telah membudaya dan terus dikembangkan secara turun-temurun. Ilmu pertanian moderen telah membuktikan bahwa sebuah ladang yang ditanami beranekaragam tumbuhan lebih tahan terhadap serangan hama, dibandingkan areal pertanian yang ditanami satu jenis tumbuhan tertentu saja (monokultur). Sistem pertanian yang tahan hama ini tentu juga akan berkontribusi pada ketahanan pangan dan keberlangsungan kehidupan keluarga. Juni 2009, sebagaiman dirilis oleh IRIN—sebuah lembaga kemanusiaan yang bekerja di negara-negara Afrika dan Asia—14 juta keluarga di Afrika Timur yang menggantungkan kehidupan mereka pada produksi pisang terancam mengalami gagal panen akibat serangan bakteri Xanthomonas. Pada tahun 2006, Uganda menderita kerugian hingga US$ 75 juta. Luasnya sebaran dan intensitas serangan bakteri ini tentunya tidak terlepas dari masifnya kegiatan perkebunan pisang di Afrika. Ini hanyalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana sistem pertanian monokultur membuat sistem ekologi dan sistem sosial menjadi amat rentan. Pisang memang bukan fast food, tapi ada banyak hasil pertanian dan perkebuanan lain yang diterapkan dengan sistem monokultur yang sama, misalnya pertanian gandum.

Kebiasaan petani kita yang secara silih berganti ataupun secara tumpang sari menanam palawija dan tumbuhan pertanian lain, yang terbukti dapat mempertahankan bahkan memperbaiki kualitas kesuburan tanah. Inilah inovasi cara memproduksi yang harmonis dengan lingkungan, yang dikembangkan petani kita sejak berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu. Bertahannya cara bercocok tanam yang arif dan ramah lingkungan ini serta biodiversitas (bibit dan varietas) unggulan lokal ini hanya dimungkinkan jika pola konsumsi kita tetap memberikan dukungan terhadap proses-proses tersebut. Inilah yang saya maksudkan dengan “ritual” makan meja makan kita sebagai sebuah aktivitas yang sarat nilai budaya dan ekologi. Ini hanya salah satu contoh kecil saja.

Sekarang mari bandingkan ketika kita menyantap fast food bersama keluarga. Adakah kita membahas manfaat irisan-irisan sayur dan keju asing yang kadang rasanya aneh bagi lidah kita? Sebagian dari kita bahkan tak bisa mengeja dengan benar nama makanan yang kita santap. Atau ayam goreng tepung yang ayamnya diimpor entah darimana, pertumbuhannya diransang entah dengan zat kimia apa, bahkan kalau mau jujur kita tidak jelas benar status halal-haramya. Garpu dan pisau makan terselip kikuk di antara jemari kita, bahkan sebagian besar pengunjung warung Pizza di kota Saya tak tahu perbedaan cara memegang atau memakai garpu untuk memotong pizza atau untuk menyuap mie Italia. Untuk sebagian besarnya kita tak tahu ”benda” yang kita makan, dan bahkan tak ingin tahu. Aktivitas makan berhenti sampai di situ saja; membeli, mengunyah, dan menelan. Tak ada lagi belajar. Tak ada lagi pengetahuan dan nilai yang diwariskan antar generasi. Kosong. Persis seperti keesokan paginya ketika tak lagi ada yang tersisa dalam sistem pencernaan kita….

Bersambung….

Bremen, 28 Februari 2010

Posted in Slow Food | 1 Comment

Kuantifikasi Pahala: Berburu Pahala di Bulan Ramadhan….

Suatu hari, ketika menikmati semangkok Soto Ayam di salah satu restoran Indonesia, seorang kawan bertanya kepadaku. Pertanyaannya sederhana,”Kenapa, pada bulan Ramadhan, kita sanggup menanggung berbuka dan makan puluhan musafir sedangkan pada hari-hari biasa tidak?” Begitulah pertanyaan kawanku itu–gara-gara Aku bercerita tentang indahnya ukhuwah ketika berbuka puasa gratis selama 30 hari di Masjid Abu Bakar.

Jawabanku juga sederhana,”Itu gara-gara banyak Ustadz yang materi khotbahnya selalu tentang kuantifikasi pahala….” Tentu saja sedikit-banyaknya jawabanku itu terpengaruh kekurangsukaanku kepada pendekatan kuantitatif pada penelitian ilmu sosial!

Sebagian besar dari kita tentu tak akan lupa, seperti yang selau dikutip oleh para Ustadz, bahwa pada bulan Ramadhan, Allah melipatgandakan pahala-Nya. Satu kebaikan yang engkau kerjakan dihari biasa akan ditujuhpuluhkalilipatkan jika engkau kerjakan di bulan Ramadhan. Mungkin si Ustadz maksudnya baik, tapi apakah kemudian mereka tidak tahu (atau tak ingin tahu) bagaimana ummat merespon informasi diatas? Atau, apakah mereka tidak tahu proses non-linear interactions sebagai akibat dari feedback (informasi) yang dia berikan, sehingga fenomena emergence yang muncul tak seperti yang mereka harapkan? The science of complexity tentunya tidak atau belum diajarkan di lembaga-lembaga  yang punya legitimasi sosial, kultural, historis, dan politik untuk mencetak orang-orang yang punya otoritas kuat untuk menginterpretasi ulang, memparafrase, dan kemudian meneruskan perkataan Nabi, Rasul, dan tentu saja, Allah.

Fenomena emergence yang muncul di antara ummat kemudian adalah “berlomba-lomba bersedekah hanya pada Bulan Ramadhan”, dibandingkan bersedekan secara konsisten di sepanjang tahun. Hal ini karena harapan akan pahala besar yang akan mereka dapatkan.

Dengan ikut-ikutan mengkuantifikasi pahala, ummat kemudian (mungkin) berhitung sebagai berikut:

Utiliitas (yaitu pahala) yang didapatkan ketika  membelanjakan uang di jalan Allah (sedekah) pada Bulan Ramadhan (sebut saja Ur) jauh lebih besar daripada Utilitas yang didapatkan ketika membelanjakan uang di jalan Allah pada bulan selain Ramadhan (sebut saja Ub). Lalu, Utilitas yang didapatkan ketika membelanjakan uang di jalan nafsu atau kebutuhan duniawi pada hari selain Ramadhan (sebut saja Ud) jauh lebih besar daripada Utilitas yang mungkin didapatkan dari membelanjakan uang di jalan Allah pada bulan selain Ramadhan (Ub).

Ini tentu saja asumsi yang dibangung dari fakta sosial yang cenderung menunjukkan bahwa intensitas sedekah menurun selepas Ramadhan. Jumlah uang yang biasa digunakan untuk memaksimalkan Ur tentunya digunakan untuk memaksimalkan kebutuhan selain Ub. Tapi tentu saja bukan berarti Ur – Ub = Ud. Mereka bahkan tidak bisa dioperasikan karena kualitas mereka tidak sama. Atau, dalam bahasa kuantitatif, satuan mereka tidak sama! Oleh karena itu tentusaja Ur tidak sama dengan Ud + Ub!

Pahala seharusnya menjadi motivasi yang positif. Tapi motivasi ini kemudian tujuan yang melampaui makna yang sebenarnya ingin dicapai, yaitu distribusi kasih-sayang diantara manusia. Tanyakan kepada diri Anda masing-masing: apakah Anda melihat fakir miskin (yang datang rumah anda pada Bulan Ramadhan) sebagai makhluk Allah yang dengan kehadiran mereka Anda bisa berbagi reski dan kasih-sayang, atau Anda melihat mereka sebagai objek pelengkap dari ibadah Anda, yang tanpa mereka Anda tak mungkin bisa mendapatkan limpah-ruah pahala Ramadhan? Mungkin ini salah satu sebab utama, kenapa ketika Ramadhan berakhir tak ada lagi musafir dan fakir miskin yang bisa bersantap di masjid setiap maghrib. Juga alasan kenapa jumlah sedekah kotak amal harian jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah harian selama Ramadhan.

Wallahu’alam….

Bremen, 7 Januari 2011

Posted in Sosial Budaya | 1 Comment

Ini Fast Food, It’s Nothing Personal!

Tulisan ini adalah bagian kesatu dari satu tulisan utuh mengenai slow food….

Praktis, berkelas, dan gaul! Itulah imaji yang ditawarkan oleh produsen makanan cepat saji atau yang biasa kita kenal dengan istilah fast food. Dengan strategi marketing yang jitu dan kemasan yang luar biasa, produk makanan semacam ini semakin meraja dimana-mana. Produknya pun beranekaragam mulai dari ayam goreng, mie, pizza, hinga donat. Bagi sebagian besar kita, mengkonsumsi produk-produk ini dipercaya mampu meningkatkan gaya hidup dan status sosial. Kita merasa dimanjakan bak raja dan ratu dengan segala ide-ide tentang kemewahan, kemudahan dan kemoderenan yang ditawarkan fast food. Kini, mereka mulai dihidangkan sebagai menu utama di meja makan kita. Dalam booming makanan cepat saji ini, tak banyak yang menyadari bahwa kekayaan nilai budaya yang terkandung dalam ”ritual” makan di rumah kita sedang tergerus. Lebih jauh lagi, keseimbangan sistem ekologi, keadilan lingkungan, kesetaraan sosial-politik-ekonomi sesungguhnya sedang terancam!

Definisi dan Karakter Fast Food

Definisi fast food beragam. Dalam tulisan ini, secara purposif, Saya akan menggunakan definisi yang terdapat pada wikipedia, yaitu ” food that can be prepared and served very quickly…[or] any meal with low preparation time…[or] food sold in a restaurant or store with preheated or precooked ingredients, and served to the customer in a packaged form for take-out/take-away….[or, at the restaurants], stands or kiosks, which may provide no shelter or seating…[where] fast food restaurants….are part of restaurant chains [with] standardized foodstuffs shipped to each restaurant from central locations.” Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut, fast food adalah,”makanan yang bisa disiapkan dan disajikan dengan sangat cepat…[atau] segala jenis makanan yang waktu penyajiannya singkat…[atau] makanan yang dijual di restoran atau toko dengan bahan-bahan yang sebelumnya telah dipanaskan atau dimasak, dan disajikan kepada pelanggan dalam kemasan bungkusan siap-bawa [atau, disajikan di restoran], atau kios yang tidak menyediakan kursi atau ruangan, [dimana dalam hal ini] restoran tersebut adalah bagian dari suatu jaringan restoran yang bahan-bahannya telah distandarisasi dan dipasok dari pusat.”

Dari definisi diatas, kita bisa menarik beberapa kesimpulan tentang karakteristik makanan cepat saji, yaitu (1) makanan bisa disajikan dengan sangat cepat, karena sebelumnya telah mengalami proses pemanasan atau pemasakan, (2) disajikan dalam kemasan take-away, (3) bahan-bahan yang digunakan telah distandarisasi, (4) bahan-bahan didatangkan atau diimpor dari pusat distribusi lokasi sentral, dan (5) dijual oleh restoran atau kios yang merupakan bagian dari sebuah jaringan restoran.Selain itu perlu ditambahkan karakteristik yang secara implisit terdapat pada definisi sebelumnya, yaitu, (6) makanan diproduksi secara massal, dan tentu saja (7) dalam bentuk mentah makanan tersebut bisa disimpan dalam waktu yang relatif lama karena mengandung bahan pengawet (preservatives). Dalam tulisan ini, jika Saya menuliskan fast food, maka yang Saya maksudkan adalah semua makanan yang memiliki ketujuh karakter diatas.

Fast Food, Sebuah Era Konsumsi Baru

Masal dan aggresif! Tanpa kedua sifat ini, industri fast food akan sulit bertahan. Dengan memproduksi secara masal, harga fast food dapat ditekan. Dengan memproduksi secara masal, fix cost (biaya tetap, misalnya ongkos mesin pabrik) dapat didistribusikan secara merata pada tiap-tiap produk. Makin banyak produksi, berarti makin kecil biaya tetap pada tiap-tiap produk. Tapi ini tidak berarti bahwa semua produk fast food akan Anda dapati dengan harga yang murah. Sama sekali tidak! Harga jual adalah hal yang lain lagi, lebih rumit daripada sekadar harga pokok dan keuntungan yang ingin diraih. Kemasan dan imej menjadi beberapa faktor saja yang dapat digunakan untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Kedua hal ini akan dibahas pada bagian tersendiri nantinya.

Memproduksi barang secara masal berarti harus mampu menjual barang tersebut lebih cepat. Selain membuat rasa makanan lebih gurih (dengan menambah monosodium glutamat/MSG) strategi pemasaran berperan sangat penting dalam hal ini. Iklan menjadi salah satu senjata utama, dan bahkan yang paling ampuh. Yang menarik dari iklan-iklan ini adalah, bagaimana tiap produsen berusaha mengkonstuksi ide lalu menanamkan ide tersebut kedalam otak konsumen. Beberapa produsen dengan sangat manipulatif menampilkan produk mereka sebagai produk yang, selain lezat, sehat dan aman, sedangkan yang lainnya lebih absurd dengan meyakinkan konsumen bahwa produk mereka berasal dari luar negeri, dan mengkonsumsinya membuat konsumen setara dengan orang yang berasal dari luar negeri. Tentu saja ide terakhir ini didukung oleh stigma bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri itu, katakanlah Amerika Serikat, moderen dan berkelas!

Lambat-laun kita mulai dijerat dengan suatu ketergantungan hingga kemudian fast food menjadi bagian tak terpisahkan dalam rumah tangga kita; menjadi menu utama di meja makan menggantikan tahu dan tempe, menjadi keharusan di acara keluarga kita menggantikan lontong sayur atau nasi pecel , atau penyemarak ketika mengundang kolega untuk arisan di rumah. Perlahan-lahan otak kita digiring pada sebuah pemahaman, bahwa inilah bentuk kebudayaan masyarakat baru dengan pola konsumsi yang lebih moderen, cerdas, higienis, sehat, dan efisien.Tidakkah keren menyajikan suatu makanan yang namanya saja menggunakan bahasa asing? Pemahaman ini secara secara tak langsung dan perlahan membuat kita berfikir bahwa makanan dari dapur kita adalah kuno, tak higienis, repot, dan kurang sehat.

Tapi jangan lupa, jika para produsen ingin barang mereka cepat terjual, selain memperluas pasar (dengan menambah konter-konter waralaba mereka), mereka harus melakukan manipulasi lainnya. Tidak tanggung-tanggung, kali ini yang dimanipulasi adalah konsumen: mereka harus mengkonsumsi lebih cepat!

Dalam logika produsen fast food, aktivitas makan yang tiap hari kita lakukan dinilai (dan diorientasikan) sebagai salah satu bagian dari mata rantai proses industri. Sebuah mata rantai, yang tanpanya industri tak lengkap dan tak mungkin berjalan. Aktivitas makan kita hanya dinilai sebagai proses konsumsi untuk sekedar menghabiskan produk industri. Dalam era ini, manusia–sebagai makhluk dengan potensi akal dan budi—juga dianggap tak lebih dari sekedar variabel peubah dalam suatu analisa statistik. Kita hanya penting jika berkontribusi secara nyata pada peningkatan daya serap produk-produk mereka melalui kegiatan berbelanja dan konsumsi. Perilaku berbelanja kita diprovokasi melalui diskon-diskon progresif yang bisa kita dapatkan untuk setiap kenaikan jumlah uang yang kita bayarkan melalui peningkatan jumlah konsumsi. Kita bahkan tak diberi kesempatan untuk menikmati makanan dengan tenang, karena tak ada kursi atau tempat yang disediakan untuk kita. Atau jika ada, Anda tak bisa berlama-lama tanpa memesan menu baru. Jika tidak, Anda akan didatangi pelayan yang dengan ramah bertanya; “Maaf, masih ada yang mau dipesan lagi?”. Jika tak ada yang akan dipesan lagi, dan jika Anda sebagai manusia masih peka, itu adalah isyarat agar Anda segera pergi.

Ingat, Anda hanyalah rantai terakhir terakhir dari proses industri yang menjalankan fungsi konsumsi. Jika sehari-hari kita biasa menyebut diri kita sebagai individu, keluarga, rukun tetangga, rukun warga, hingga kampung dan bahkan masyarakat internasional, bagi produsen kita hanya dikenali dengan satu istilah universal saja. Kita adalah pasar!

Jangan diambil hati. Ini hanya industri fast food, kawan. It’s nothing personal!

Bersambung….

Bremen, 28 Februari 2011

Aside | Posted on by | Leave a comment

Catatan tentang Notes: Sebuah Prolog

Akan menulis lagi….

Ya, situs jejaring sosial merubah segalanya, dan Saya–hari ini–memutuskan untuk terlibat ikut dalam histeria pertukaran ide ini. Lebih lagi, sekarang ini proses pertukaran ide sudah mengalami transformasi yang sangat signifikan, revolusioner, dan liar!

Jika sebelumnya ide dikonstruksi (dan dikomersialisasi) oleh individu-individu yang memiliki modal melalui apa yang kita kenal sebagai korporasi (i.e. media cetak elektronik yang sudah mapan), sekarang siapapun bisa membuat ide-ide mereka terdistribusi secara global tanpa harus kawatir disunting oleh editor. Mulai dari tulisan yang bernas hingga sekedar keluh-kesah sesama kawan, semuanya tinggal diketik dan hanya perlu menekan satu tombol untuk itu.

Ini sangat penting untuk dikomunikasikan karena banyak hal. Saya akan sebutkan beberapa diantaranya, yang menurutku paling penting. Pertama, ide tidak pernah benar-benar bebas nilai (value free)! Selalu ada latar belakang atau asumsi untuk mendukung “kebenaran” sebuah ide. Ada “paket pemikiran” yang ditawari oleh sebuah ide kepada calon-calon konsumennya. Misalnya, jika hari ini Anda “membeli” ide bahwa kerusakan sumberdaya alam adalah hanya berkaitan dengan ledakan penduduk, keterbatasan sumberdaya alam (the limit of growth dan scarcity), dan tidak adanya aturan yang berkekuatan hukum formal, maka bisa jadi Anda juga akan mendapat paket ekstra berupa rational choice theory, classical economic, conservationism, dan lain sebagainya. Jika tuan rumah (si penjual ide) sedang berbaik hati, maka Anda mungkin akan mendapatkan soft atau hard copy tulisan Hardin tentang Tragedy of the Commons. Lalu pada malam harinya, ketika sedang dimeja makan dan jika Anda adalah seorang kepala keluarga, Anda akan bercerita kepada anak-istri bahwa privatisasi dan nasionalisasi sumberdaya alam oleh pemerintah dan swasta merupakan cara terbaik untuk menyelamatkan sumberdaya alam dari kerusakan. Anda juga akan menambahkan–secara naif–bahwa hal ini sesuai dengan UUD 45 pasal dan ayat kesekian….

Alasan kedua, merujuk pada teori memetik dan fisika klasik. Ide (meme) adalah benda tak wujud, dan didalam teori fisika, tidak mungkin ada dua benda yang menempati ruan yang sama pada waktu yang bersamaan, bahkan untuk benda yang sama sekalipun. Untuk contoh kasus di atas, jika pada suatu waktu Anda percaya bahwa degradasi sumberdaya alam “hanyalah” fungsi ledakan penduduk, keterbatasan sumberdaya alam (terutama yang tidak terbarukan), dan tidak adanya aturan yang kuat (dalam hal ini hukum negara), maka tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya, pada saat yang bersamaan, Anda juga percaya bahwa eksploitasi sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat adalah fungsi dari kebijakan sosial, politik, ekonomi yang timpang. Jika saat ini Anda–yang sedang membaca tulisan ini–adalah salah satu orang yang Saya sebutkan di atas, maka boleh jadi saat ini Anda sangat kabur melihat (memahami) korelasi kebijakan sospolek dengan eksploitasi dan kerusakan sumberdaya alam yang sedang berlansung saat ini, terutama yang dilakukan oleh masyarakat, misalnya penangkapan ikan yang eksploitatif dengan metoda ilegal menurut hukum positif (bius dan bom). Dua ide berbeda yang mencoba (atau dikonstruksi) untuk menjelaskan permasalahan yang sama, bisa dianalogikan sebagai dua partikel yang bermuatan sama (sama-sama positif atau sama-sama negatif), mereka akan selalu tolak menolak sehingga tak mungkin menempati ruang dan waktu yang sama.

Menulis sesungguhnya adalah peperangan! Namun karena menulis hanya dilakukan oleh orang-orang yang berfikir, maka ada aturan yang membingkai peperangan ini. Tak usah Saya tulis disini, toh, orang-orang yang membaca juga orang-orang ingin berfikir. Jadi Saya asumsikan saja Anda semua sebagai orang-orang yang sudah tahu aturan tersebut.

Mempublikasi tulisan menjadi semakin mudah. Terima kasih untuk mereka yang menyediakan situs jejaring sosial dan blog. Era dimana media dikuasai korporasi (yang selalu cenderung untuk berselingkuh dengan kekuasaan) sudah berakhir. Yah, tentu saja dengan asumsi Indonesia tidak akan memblokir situs-situs jaringan sosial dan blogging. Ini, tentunya harus diiringin dengan asumsi bahwa MUI berhenti mencari pembenaran untuk mengharamkan situs-situs ini. Ohya, ada initial condition lagi yang harus dipenuhi, yaitu MUI tidak ingin/bisa mengakumulasi kekuatan politiknya atas dan/atau di dalam rezim kekuasaan. Tentunya ada banyak asumsi lagi yang harus dibangun dan kondisi awal yang harus dipenuhi. Tapi sudahlah, kita lakukan sambil jalan saja. Ya, sambil menulis!

Hari ini, Saya mencoba untuk kembali menulis, kembali berkeluh-kesah dan “beronani intelektual” tanpa harus dibatasi oleh jumlah halaman atau struktur tulisan sebagaimana yang diatur oleh paper (agar mereka terkesan mapan) atau koran (agar selalu tersedia lebih banyak halaman untuk iklan dan suara pemerintah). Kalau suka silahkan saja dibaca. Moga-moga energi yang dihabiskan untuk menulis dan mempublikasikan tulisan ini tidak sia-sia. Jika tulisan Saya masih belum baik, silahkan Anda bantu mengelaborasinya (tapi Saya belum tentu sepakat dengan elaborasi Anda, lo). Silahkan juga “dicaci-maki” sesuai aturan yang ada, siapa tahu malah Saya yang akan “membeli” dagangan Anda!

Who knows…?

Bremen, 26 September 2010

Posted in Keluh-kesah | 2 Comments